Telah kutinggalkan sekeping kelaminku
Pada batu kali. Biar sesekali terkena
Cipak air. Tak ada yang perlu disesal
Kecuali melihat burung burung nazar
Mengerubutinya
Seperti pengemis di pelataran masjid
Pada hari jum’at
Pedang terhunus di dedahan
Ini nyeri seorang perempuan:
Merelakan kelamin jadi santapan
Birahi para
Nazar yang baru berpuasa
Setengah hari lamanya
Menjadi berdarah dan nanah
Ketika tak saja kelamin
Dihargai sebagai
Cemoohan
juga hati yang nangis jika
malam malam sepi berkunjung
dan suara tuhan
membisik pelan
Krapyak, 1423 H
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Maret 2009
Menatap Potret Kota
I.
Selaksa rindu tertambat di got-got malioboro. Angin
Ngalir tak mampu tembus jeruji yang mempat
Tertanam tahunan lalu. Kota ini masih sama
Hanya sedikit lebih keriput dan tampak tua
II.
Seniman muda mengeja burung yang berseliweran
Di depan istana negara dengan selembar
Kanvas
Membuat sketsa tak berujung. Sesekali
Ditemani sedikit serbuk dan beberapa teguk
Tuak. Sekedar menghangatkan imajinasi
III.
Patung di sudut kota nangis, cari jejak kupu-kupu
Yang robek sayapnya kemarin sore. Seorang
Lelaki diam-diam mengantongi dan menyimpannya bersama
Setetes mani. Beberapa kertas lusuh dalam dompetnya bercerita, bahwa
Dulu di situ ada gambar isteri dan anaknya
: hanya sekedar cerita!
IV.
Aku menatap potret kota yang kubeli
Dari seorang lelaki tua
Krapyak, 2008
Selaksa rindu tertambat di got-got malioboro. Angin
Ngalir tak mampu tembus jeruji yang mempat
Tertanam tahunan lalu. Kota ini masih sama
Hanya sedikit lebih keriput dan tampak tua
II.
Seniman muda mengeja burung yang berseliweran
Di depan istana negara dengan selembar
Kanvas
Membuat sketsa tak berujung. Sesekali
Ditemani sedikit serbuk dan beberapa teguk
Tuak. Sekedar menghangatkan imajinasi
III.
Patung di sudut kota nangis, cari jejak kupu-kupu
Yang robek sayapnya kemarin sore. Seorang
Lelaki diam-diam mengantongi dan menyimpannya bersama
Setetes mani. Beberapa kertas lusuh dalam dompetnya bercerita, bahwa
Dulu di situ ada gambar isteri dan anaknya
: hanya sekedar cerita!
IV.
Aku menatap potret kota yang kubeli
Dari seorang lelaki tua
Krapyak, 2008
Penghuni Surga dari Tanah Peziarah
ada yang mulai lepas dari
jiwa yang damai. hilang dan dibakar
metraliur serta pucuk-pucuk
mesin pembunuh
tak tangis lapar
dan kehilangan anggota badan
meluluhkan kerasnya jiwa
pun jerit kanak yang rindu
manis puting susu ibunya
putih merpati hanya semacam mitos
karena sudah sejak lama
burung tak singgah di tanah para peziarah
hanya pohon gharqad yang merindang
serupa benteng pertahanan
di akhir zaman
dolar begitu mudah mengucur
mewujud dalam setiap peluru yang mengantarkan
nyawa kanak serta ibunya
menuju Rabb tercinta
Izrail sibuk menjemput tamu-tamu
yang kan menempati surga
kataNya,
”masukilah pintuku dari arah mana yang kau suka”
Jogja 2003-2008
jiwa yang damai. hilang dan dibakar
metraliur serta pucuk-pucuk
mesin pembunuh
tak tangis lapar
dan kehilangan anggota badan
meluluhkan kerasnya jiwa
pun jerit kanak yang rindu
manis puting susu ibunya
putih merpati hanya semacam mitos
karena sudah sejak lama
burung tak singgah di tanah para peziarah
hanya pohon gharqad yang merindang
serupa benteng pertahanan
di akhir zaman
dolar begitu mudah mengucur
mewujud dalam setiap peluru yang mengantarkan
nyawa kanak serta ibunya
menuju Rabb tercinta
Izrail sibuk menjemput tamu-tamu
yang kan menempati surga
kataNya,
”masukilah pintuku dari arah mana yang kau suka”
Jogja 2003-2008
Kisah Pemburu Sungai, Ikan Kecil, dan Kangkung
Kuceritakan padamu,
Dulu di petak sungai kecil ini
Aku biasakan diri memanjakan masa kanakku
- menangkap ikan-ikan kecil,
Memanen sayur kangkung yang tumbuh menjalar
Dan mandi berendam di sungai
Tanpa harus takut terkena penyakit yang tak ada nama
Dan obatnya
Dulu aku juga suka memanjat pohon-pohon yang ada di tepinya
Mencari dedaunan untuk bungkus-mainan
Atau sekedar memanjat untuk kesenangan belaka
Namun jangan kau minta aku kini untuk mencarinya
Sungaiku kini menjadi besi-beton berjajar
Kangkungnya berganti tanaman yang tak enak dimakan,
Namun katanya sedap dipandang
Dan pepalem berjajar rapi di kanan kirinya
Jaring yang kubawa konon justru menjadi petanda bahwa
Aku, katanya gelandangan, hingga satpam memburuku
menangkapku dalam jeruji, dan mengumpatiku siang malam
Dalam kepalaku
Ketiga anak kecilku saat ini pasti telah menantiku
Mungkin kumakan saja tembok-tembok berterali ini
Sambil membayangkan inilah sungai, ikan-ikan kecil, dan kangkung yang kucari
Jika kusudah pulang nanti, anakku pasti akan bangga
Karena telah kubawakan apa yang selama ini kuceritakan pada mereka
Sayang, popor pistol penjaga itu terlanjur menggetok kepalaku
Dan memaki ”Berani-beraninya menyusup ke gedung DPR!”
Dulu di petak sungai kecil ini
Aku biasakan diri memanjakan masa kanakku
- menangkap ikan-ikan kecil,
Memanen sayur kangkung yang tumbuh menjalar
Dan mandi berendam di sungai
Tanpa harus takut terkena penyakit yang tak ada nama
Dan obatnya
Dulu aku juga suka memanjat pohon-pohon yang ada di tepinya
Mencari dedaunan untuk bungkus-mainan
Atau sekedar memanjat untuk kesenangan belaka
Namun jangan kau minta aku kini untuk mencarinya
Sungaiku kini menjadi besi-beton berjajar
Kangkungnya berganti tanaman yang tak enak dimakan,
Namun katanya sedap dipandang
Dan pepalem berjajar rapi di kanan kirinya
Jaring yang kubawa konon justru menjadi petanda bahwa
Aku, katanya gelandangan, hingga satpam memburuku
menangkapku dalam jeruji, dan mengumpatiku siang malam
Dalam kepalaku
Ketiga anak kecilku saat ini pasti telah menantiku
Mungkin kumakan saja tembok-tembok berterali ini
Sambil membayangkan inilah sungai, ikan-ikan kecil, dan kangkung yang kucari
Jika kusudah pulang nanti, anakku pasti akan bangga
Karena telah kubawakan apa yang selama ini kuceritakan pada mereka
Sayang, popor pistol penjaga itu terlanjur menggetok kepalaku
Dan memaki ”Berani-beraninya menyusup ke gedung DPR!”
Hikayat Seorang Penari
Wangi setanggi menusuk ingatan
Pada dua belas rembulan
: seorang penari menari di tengah altar
Darahnya mengalir sampai ke Merauke
Menyuburkan jerit buruh dan tani
Yang tenggelam dalam badai buatan para kapital
ribuan bayi menangis
Mencari tetek ibunya yang telah lama tergadai
Malaikat pun enggan datang ke tempat semaksiat ini
Kitab-kitab menjadi sakarin yang diemut anak-anak
Sekolah menjadi dongeng kosong
Ibu-ibu memilih kehilangan rahim, karena
Setetes mani saja tak cukup untuk kehidupan
Yang diatasnamakan cinta
Wangi setanggi menusuk ingatan
Pada tiga belas rembulan
: seorang penari mati di tengah altar
Tubuhnya kulai
Terbujur hingga ke tanah Rencong
Menyenyapkan jejerit kaum papa
Para kapital bertempik sorak,
mengangkang di atas tubuh yang
hidup namun memayat
malaikat telah lama beranjak dari tempat ini
kitab-kitab menjelma pajangan
menjadi cagar budaya
tanpa perlu dilestarikan
: seorang penari telah dikremasi sore tadi
Pada dua belas rembulan
: seorang penari menari di tengah altar
Darahnya mengalir sampai ke Merauke
Menyuburkan jerit buruh dan tani
Yang tenggelam dalam badai buatan para kapital
ribuan bayi menangis
Mencari tetek ibunya yang telah lama tergadai
Malaikat pun enggan datang ke tempat semaksiat ini
Kitab-kitab menjadi sakarin yang diemut anak-anak
Sekolah menjadi dongeng kosong
Ibu-ibu memilih kehilangan rahim, karena
Setetes mani saja tak cukup untuk kehidupan
Yang diatasnamakan cinta
Wangi setanggi menusuk ingatan
Pada tiga belas rembulan
: seorang penari mati di tengah altar
Tubuhnya kulai
Terbujur hingga ke tanah Rencong
Menyenyapkan jejerit kaum papa
Para kapital bertempik sorak,
mengangkang di atas tubuh yang
hidup namun memayat
malaikat telah lama beranjak dari tempat ini
kitab-kitab menjelma pajangan
menjadi cagar budaya
tanpa perlu dilestarikan
: seorang penari telah dikremasi sore tadi
Sajak Kolak
Biar kurumuskan arti ramadhan bagi kita:
Kolak manis dan kurma sebagai pembuka. Ini pas, sesuai perintah nabi. Menu pembuka istimewa wajib hukumnya, sebagai ganti perut yang hampir separuh hari merana karena tak ada isi. Jangan lupa mencatat menu yang berbeda agar puasa tambah istimewa. Dahulukan berbuka, karena Tuhan bisa menunggu. Dia selalu siap dengan pintu taubat yang kita pegang kuncinya. Sediakan remote di samping kita: wajah-wajah baru minim gaya tak boleh diabaikan begitu saja. Jika tiba waktu tarawih, tentukan sekalian: sebelas atau duapuluh tiga. Yang penting, segera selesai karena toh Tuhan sudah hapal dengan sholat-doa kita. Persiapkan menu sahur dengan seksama. Jangan sampai mengulang menu yang sama, atau puasa kita akan kacau semua. Pesan pembantu untuk menyiapkan segala, dan membangunkan kita setengah jam sebelum waktu imsak tiba. Jika waktunya kerja, hemat tenaga, dan pulang sebelum waktunya. Persiapan toples dan isinya tak boleh tidak, juga dengan recehan bagi para peminta yang akan berkunjung saat lebaran. Siapkan pula THR untuk pembantu dan sedikit wejangan untuk tak lupa segera kembali bekerja. Baju lebaran harus beda, kaya warna, ditambah make up sekelas salon biar tak mati gaya. Sempurna!!
Kolak manis dan kurma sebagai pembuka. Ini pas, sesuai perintah nabi. Menu pembuka istimewa wajib hukumnya, sebagai ganti perut yang hampir separuh hari merana karena tak ada isi. Jangan lupa mencatat menu yang berbeda agar puasa tambah istimewa. Dahulukan berbuka, karena Tuhan bisa menunggu. Dia selalu siap dengan pintu taubat yang kita pegang kuncinya. Sediakan remote di samping kita: wajah-wajah baru minim gaya tak boleh diabaikan begitu saja. Jika tiba waktu tarawih, tentukan sekalian: sebelas atau duapuluh tiga. Yang penting, segera selesai karena toh Tuhan sudah hapal dengan sholat-doa kita. Persiapkan menu sahur dengan seksama. Jangan sampai mengulang menu yang sama, atau puasa kita akan kacau semua. Pesan pembantu untuk menyiapkan segala, dan membangunkan kita setengah jam sebelum waktu imsak tiba. Jika waktunya kerja, hemat tenaga, dan pulang sebelum waktunya. Persiapan toples dan isinya tak boleh tidak, juga dengan recehan bagi para peminta yang akan berkunjung saat lebaran. Siapkan pula THR untuk pembantu dan sedikit wejangan untuk tak lupa segera kembali bekerja. Baju lebaran harus beda, kaya warna, ditambah make up sekelas salon biar tak mati gaya. Sempurna!!
Kepada Yang Maha Tuan
kepada yang maha tuan, sajak ini kutuliskan
dalam bait-bait yang belum sempat menjadi tawa
begitu saja rindu menawan bidadari pembawa marjan
apa sebab tuan menahan dalam remang?
tidakkah terlihat aku bergelegak?
di tanganku sudah tergantung cawan dan daun-daun
yang dikirimkan para moyang
aku melata sudah
dalam gerigi yang kautanam pada jalan-jalanmu
o, yang maha tuan
lakon apa yang tuan ingin aku mainkan?
kecapi dan siter ditanggal sudah
sajak dan lakon dibakar sudah
tak ada sekedar panggung untuk mementaskan maha karyaku
bahkan sekedar nyala lilin untuk korneaku
mengapa pula tirai kau tutup?
aku merapal mantra
aku mengaya sukma
aku menjahit kesetiaan menjadi penutup aurat
aku bahkan telah membacamu
sungguh, tuan, telah kubaca kau dalam
garis-garis daun yang jatuh ke tanah
sore ini
wajahmu coklat
o, yang maha tuan
apakah sajakku akan kau singgahkan
ke bukit thursina seperti saat musa melihat cahayamu?
o,
begitu susah aku menjadi
sekedar ibrahim yang dilempar dalam tungku menyala
dalam bait-bait yang belum sempat menjadi tawa
begitu saja rindu menawan bidadari pembawa marjan
apa sebab tuan menahan dalam remang?
tidakkah terlihat aku bergelegak?
di tanganku sudah tergantung cawan dan daun-daun
yang dikirimkan para moyang
aku melata sudah
dalam gerigi yang kautanam pada jalan-jalanmu
o, yang maha tuan
lakon apa yang tuan ingin aku mainkan?
kecapi dan siter ditanggal sudah
sajak dan lakon dibakar sudah
tak ada sekedar panggung untuk mementaskan maha karyaku
bahkan sekedar nyala lilin untuk korneaku
mengapa pula tirai kau tutup?
aku merapal mantra
aku mengaya sukma
aku menjahit kesetiaan menjadi penutup aurat
aku bahkan telah membacamu
sungguh, tuan, telah kubaca kau dalam
garis-garis daun yang jatuh ke tanah
sore ini
wajahmu coklat
o, yang maha tuan
apakah sajakku akan kau singgahkan
ke bukit thursina seperti saat musa melihat cahayamu?
o,
begitu susah aku menjadi
sekedar ibrahim yang dilempar dalam tungku menyala
Cerita Senja
Mungkin sudah saatnya
Daun kuning melayang ke tanah
Menjumpa matahari yang menyenja
: mengingatkanku pada jejak kaki kita
Pada cinta kita yang purba
Pada tangis kanak kita
Pada kita yang mencoba memaknai matari dan gugusan kejora
Mungkin dengan demikian
Kita menjadi yakin
Ketika pada suatu nanti
Yang Maha Segala menatap kita
Dengan asih dan bertanya:
”Ke mana kau meninggalkan jejak kaki,
Tangan dan lisanmu?”
Mungkin kita akan menjawab dengan penuh kepercayaan diri
Atau barangkali kita akan tercekat
Dalam dada yang berdebar keras
Ketika kita sadar,
Kita lupa ke mana kaki kita membawa
Kita alpa apa tangan kita perbuat
Lalu tiba-tiba kita akan menangis
Daun kuning melayang ke tanah
Menjumpa matahari yang menyenja
: mengingatkanku pada jejak kaki kita
Pada cinta kita yang purba
Pada tangis kanak kita
Pada kita yang mencoba memaknai matari dan gugusan kejora
Mungkin dengan demikian
Kita menjadi yakin
Ketika pada suatu nanti
Yang Maha Segala menatap kita
Dengan asih dan bertanya:
”Ke mana kau meninggalkan jejak kaki,
Tangan dan lisanmu?”
Mungkin kita akan menjawab dengan penuh kepercayaan diri
Atau barangkali kita akan tercekat
Dalam dada yang berdebar keras
Ketika kita sadar,
Kita lupa ke mana kaki kita membawa
Kita alpa apa tangan kita perbuat
Lalu tiba-tiba kita akan menangis
Langganan:
Postingan (Atom)
